Bertandang ke pusat kerajinan kayu di Sebatu (1)

PELUANG USAHA / SENTRA USAHA Bertandang ke pusat kerajinan kayu di Sebatu (1) Kamis, 20 Juli 2017 / 13:05 WIB Bertandang ke pusat kerajinan kayu di Sebatu (1)

Berbicara soal budaya, seni, hingga karya kerajinan tangan, Bali memang juaranya. Seolah tak ada habisnya, di setiap sudut Bali banyak ditemukan buah karya masyarakat setempat. Produknya pun beragam, mulai dari kain tenun, kerajinan bambu, kerajinan daun lontar, patung, hingga kerajinan kayu.

Selain punya sentra produksi dan penjualan patung di Pakudui, Gianyar ternyata masih menyimpan potensi kerajinan lain. Masih didominasi oleh bahan dasar kayu, di Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang juga terdapat sentra produksi dan penjualan kerajinan.

Beranjak dari Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Desa Sebatu bisa dijangkau setelah menempuh perjalanan darat sekitar dua jam. Namun, jika berangkat dari pusat Kabupaten Gianyar, perjalanan menuju Desa Sebatu hanya memakan waktu sekitar 40 menit.

Beberapa waktu lalu, KONTAN berkesempatan mengunjungi desa yang menjadi markasnya para perajin kayu ini. Di Sebatu, tepatnya di sepanjang jalan raya menuju arah Kintamani, banyak ditemukan kios-kios yang menjual beragam produk kerajinan.

Meski berada di pinggir jalan, kios-kios barang kerajinan ini biasanya memiliki halaman luas. Halaman tersebut digunakan untuk menjemur kayu yang akan dibentuk jadi berbagai produk kerajinan. Salah satu pemilik kios adalah Nyoman Suarni.

Nyoman sudah sepuluh tahun menggeluti kerajinan kayu. Produk kerajinan yang ia pasarkan merupakan hasil produksi sendiri. Sebelum buka toko sendiri, Nyoman pernah menjadi perajin kayu di toko orang lain. "Belajarnya autodidak saja, karena bekerja sama orang juga belajar dari bos," kisahnya kepada KONTAN.

Meski tidak menuruni usaha orang tua, Nyoman mengakui bahwa dulunya hampir seluruh masyarakat Sebatu berprofesi sebagai perajin kayu. Bahkan, tak hanya di Sebatu, perajin kayu juga bisa ditemui di Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Gianyar.

Banyak perajin, banyak pula ragam produk yang dihasilkan. Nyoman sendiri di kiosnya menjual kerajinan kayu berupa patung Buddha dan patung dewa-dewi. Mulai dari kepala Buddha hingga patung Buddha utuh berukuran jumbo ada di kiosnya.

Lain lagi halnya dengan Wayan Durmita. Masih di Sebatu, kios Wayan menyediakan berbagai ukuran dan model kotak untuk dupa. Semua produk yang dijualnya merupakan hasil buatan tangan alias handmade. "Kalau sekarang kotak aja, dulu waktu sama bapak masih ada patung," ujar dia.

Memang, usaha kerajinan yang selama lima tahun terakhir digeluti Wayan merupakan usaha turunan dari sang ayah. Bahkan, menurut Wayan, kakeknya pun dulu menjadi seorang perajin kayu. "Saya dari umur 17 tahun sudah bisa memahat, bantu-bantu usaha bapak," tutur Wayan.

Meski tak seragam, umumnya perajin di Sebatu menggunakan bahan baku kayu untuk produk kerajinannya. Harga produk kerajinan kayu di Sebatu pun terbilang beragam.

Nyoman misalnya, menjual patung mulai dari harga ratusan ribu. Sementara Wayan menjual kotak dupa dengan harga kurang dari Rp 100.000 per item.

(Bersambung)

Reporter Nisa Dwiresya Putri Editor Johana K.

SENTRA UKM

  1. Kuartal II, Bank Mandiri cetak laba Rp 9,5 triliun
  2. Mampukah BUMI keluar dari jerat utang?
  3. Andi Mallarangeng resmi berstatus bebas murni
  4. Diet Ketogenik bikin fungsi otak menurun
  5. Sofjan: Banyak pernyataan Pajak yang menakutkan
  1. Setnov: Uang Rp 574 miliar bawanya pakai apa?
  2. BI ingin RUU redenominasi rupiah dibahas tahun ini
  3. Dana Kementerian Koordinator dipotong
  4. Pajak: Setiap hari harus ada WP yang disendera
  5. Sofjan: Banyak pernyataan Pajak yang menakutkan

Feedback ↑ x Feedback ↓ x

Leave a Reply

Blogs
What's New Trending

Related Blogs

Sign up for newsletter

Get latest news and update

Newsletter BG