Bisnis jasa binatu masih tetap basah

PELUANG USAHA / PELUANG USAHA Bisnis jasa binatu masih tetap basah Minggu, 16 April 2017 / 16:47 WIB Bisnis jasa binatu masih tetap basah

JAKARTA. Jasa binatu atau lebih dikenal dengan sebutan laundry masih banyak diburu konsumen, terutama di wilayah perkotaan. Maklum saja, di tengah padatnya aktivitas, banyak orang tidak memiliki waktu untuk membersihkan pakaiannya.

Tidak heran kalau usaha ini banyak diburu oleh investor. Asal tahu saja, kini semakin banyak bisnis laundry yang menawarkan kerjasama kemitraan dengan berbagai macam paket investasi.

Nah, dalam review kali ini, KONTAN mengulas perkembangan usaha beberapa kemitraaan laundry, seperti Yoyo Laundry, Koko Laundry, dan Nandawash. KONTAN pernah mengulas tawaran usaha mereka di tahun lalu. Nah, dari tiga pemain bisnis laundry itu, semuanya menunjukkan perkembangan usaha yang positif. Seperti apa persisnya perkembangan usaha mereka, berikut ulasannya:

Yoyo Laundry

Usaha besutan Michael Tahir ini baru dibuka pada Juli 2016 lalu di Denpasar, Bali. Melihat respon positif dari konsumen, dia langsung menawarkan kemitraan. KONTAN sempat mengulas kemitraan Yoyo Laundry pada Oktober tahun lalu dan tercatat sudah ada dua mitra yang bergabung.

Belum setahun, kini sudah ada tiga mitra baru yang bergabung dan semuanya berlokasi di Bali. Sedangkan, untuk gerai pribadi ada dua di Bali. Bila tidak ada halangan, Yoyo Laundry akan membuka satu gerai pribadi di Yogyakarta.

"Yogyakarta merupakan kota kedua yang banyak dikunjungi wisatawan," kata Michael kepada KONTAN, Kamis (13/4).

Banyak peminat, sejak awal April 2017 Michael menaikkan nilai investasi kemitraan dari Rp 25 juta menjadi Rp 40 juta untuk paket agensi. Mitra mendapat satu rak laundry, satu meja laundry, papan nama merek Yoyo laundry, satu timbangan dan pelatihan usaha.

Sedangkan untuk paket eksekutif atau master franschise naik dari Rp 100 juta menjadi Rp 150 juta. Fasilitas yang didapat terdiri dari desain tempat usaha, meja laundry, dua mesin cuci, satu pengering dan pelatihan usaha. Mitra juga bisa merekrut tiga agensi di daerah mitra membuka usaha, sehingga mitra juga bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari agensi.

Berdasarkan perhitungannya, untuk mitra yang mengambil paket eksekutif waktu balik modal kurang dari satu tahun dengan catatan omzet setiap bulannya mencapai Rp 35 juta. Setelah dikurangi belanja produk dan operasional, porsi keuntungan bersih yang didapatkan mitra sekitar 15% sampai 20% dari omzet.

Harga jasa cuci ditempat ini masih tetap, yaitu Rp 6.000 per kilogram (kg). Tapi, khusus di gerai pusat Rp 7.000 per kg, kenaikan ini sengaja dibuat untuk mengurangi jumlah pelanggan sehingga dapat beralih ke gerai mitra. "Sudah saya naikkan tapi tetap saja masih over load," tambahnya.

Ke depan, dia berencana lebih fokus mencari mitra paket eksekutif di kota besar di Indonesia seperti Jakarta. Surabaya, Lombok, dan lainnya.

Koko Laundry

Usaha laundry asal Batam ini dirintis oleh Hengki Cahyadi. Sama seperti Yoyo Laundry, usaha laundry ini pun mengalami perkembangan jumlah mitra usaha. KONTAN pernah mengulas kemitraan ini pada 2016. Saat itu, Koko Laundry telah memiliki 9 mitra dam kini jumlah mitranya mencapai 16 yang tersebar di beberapa wilayah di Batam.

“Penjualan kami tidak pernah turun. Selalu stabil cenderung meningkat,” tutur Hengki. Peningkatan terutama terjadi di musim penghujan, seperti bulan Desember, Januari dan Maret. Dari target omzet Rp 15 juta per bulan, nyatanya mitra Koko Laundry kini beromzet Rp 18 juta hingga Rp 22 juta per bulan.

“Sebenarnya masih banyak permintaan untuk bermitra dengan kami,” tutur Hengki. Namun, ia seringkali menemukan calon mitra yang terkendala dana. Jika bukan soal dana, mereka justru sulit mencari lokasi.

Meski permintaan tinggi, Koko Laundry urung menaikkan harga. Jasa laundry di Koko Laundry masih berharga Rp 7.000 per kg. Begitu pula untuk paket kemitraannya. Tak ada yang berbeda dari nilai investasi yang ditawarkan yakni Rp 30 juta-Rp 52 juta.

Perjalanan bisnis Koko Laundry yang bagus ini tentu tidak bisa diraih tanpa manajemen yang baik. Hengki bilang, ia menjalankan sistem support yang kuat untuk mitra. Imbasnya, tak satupun mitra yang sempat gulung tikar. “Kalau ada yang omzetnya rendah, kita bantu dengan pasokan pesanan dari gerai pusat,” ujar Hengki.

Kini Koko Laundry berhasil membesarkan namanya di Batam. Selanjutnya, Hengki ingin melebarkan sayap ke beberapa wilayah lain di Kepulauan Riau. “Targetnya tahun ini mau tambah 50 mitra,” ucapnya.

Nandawash Laundry

Pelaku usaha lainnya adalah Andri Kristanto di Ngawi, Jawa Timur. Mendirikan usaha binatu Nandawash akhir tahun 2004, setahun kemudian tawaran kemitraan diluncurkan. Saat KONTAN mengulas kemitraan ini pada Mei 2016, Nandawash memiliki 39 gerai yang tersebar di Ponorogo, Magetan, Surabaya, Gresik dan area Jawa Tengah lainnya. Sementara gerai milik pusat berlokasi di Ngawi.

Kini, mitra yang bergabung telah bertambah menjadi 55 mitra. “Bertambah 20 mitra dari Mataram, Balikpapan, Medan dan Papua,” ucap Andri. Ia menyebut, dengan banyaknya kompetitor yang bermunculan, paket kemitraan yang ditawarkan masih diminati calon mitra di seluruh Indonesia.

Tawaran kemitraan Nandawash masih sama sejak awal. Pertama, paket senilai Rp 25 juta. Mitra mendapat perlengkapan usaha seperti mesin cuci, setrika uap, mesin pengering, bahan baku seperti deterjen, pelatihan usaha, dan perlengkapan usaha.

Kedua, paket investasi senilai Rp 35 juta. Mitra akan mendapat perlengkapan usaha yang sama dengan jumlah lebih banyak. Mitra juga berhak menjadi distributor tapi bukan tunggal. Ketiga, paket investasi senilai Rp 50 juta. Mitra mendapat perlengkapan usaha yang sama dengan paket sebelumnya dengan jumlah yang lebih banyak. Pada paket ini mitra juga berhak menjadi distributor tunggal bahan baku di satu kota untuk mitra di daerah tersebut.

Kerjasama kemitraan ini tidak mengutip biaya royalti maupun franchise fee. Namun, pusat mewajibkan mitra membeli bahan baku deterjen dan pewangi ke pusat. Disamping paket investasi kemitraan, Andri membuka paket pelatihan untuk supplier yang membuka outlet untuk memproduksi sabun cair dan pewangi laundry.

Andri menyebut tarif jasa Nandawash pun masih sama. Untuk paket binatu reguler atau dua hari selesai dihargai Rp 3.500 per kg, paket kilat Rp 5.000 per kg dan paket ekspres sekitar 6 jam-9 jam selesai seharga Rp 8.000 per kg. Sementara untuk harga cuci bed cover, baju pengantin, tikar dan lainnya Rp 35.000 hingga Rp 150.000 per unit.

Andri mengaku, sengaja tidak merubah paket investasi ataupun tarif jasa agar tetap menarik minat calon mitra dan konsumen datang ke gerai. Dia mengaku, tidak ada kendala berarti yang dihadapi dalam menjalankan usaha ini. Tahun ini, Andri menargetkan bisa menggandeng 25 mitra baru. Agar mencapai target, ia aktif melakukan pemasaran melalui sosial media.

Reporter Jane Aprilyani, Nisa Dwiresya Putri, Tri Sulistiowati Editor Havid Vebri

USAHA IKM

  1. Menhub akui ada penolakan ganjil-genap saat mudik
  2. Generasi k
    edua bisnis Lookman Djaja
  3. REI Expo, BNI imingi bunga KPR 4,5%
  4. BRMS target genggam izin tambang anak usaha
  5. Jokowi akan evaluasi upaya perbaikan investasi
  1. Tamasya Al Maidah klaim diikuti 1,3 juta orang
  2. Lelaki bercadar serang Mapolres Banyumas
  3. Penyidik KPK Novel Baswedan disiram air keras
  4. Kata pebisnis soal rencana kaji ulang aturan pajak
  5. PPP tetap terpecah di Pilgub DKI

Feedback ↑ x Feedback ↓ x

Leave a Reply

Blogs
What's New Trending

Related Blogs

Sign up for newsletter

Get latest news and update

Newsletter BG