Menengok produksi genteng di Malang (1)

PELUANG USAHA / SENTRA USAHA Menengok produksi genteng di Malang (1) Senin, 20 Maret 2017 / 14:26 WIB

JAKARTA. Kota Malang memang identik dengan wisata kuliner dan hiburannya. Tidak heran kota ini jadi tujuan yang tak pernah sepi dikunjungi wisatawan. Selain kuliner dan hiburan, kota apel ini juga menyimpan potensi industri lain. Salah satunya asalah sentra produksi genteng di Desa Mendir, Kelurahan Mngliawan, Kecamatan Pakis, Malang.

Sentra ini diramaikan sekitar 10-15 produsen genteng. Dari Kota Malang, sentra ini bisa diakses dengan melewati Jalan Laksda Adi Sucipto menuju Mngliawan. Sekitar 15 menit perjalanan dengan jarak tempuh 5 kilometer menggunakan mobil, Anda bisa sampai di sentra ini.

Tumpukan dan susunan genteng tampak berderet di pinggir jalan sebagai tanda tempat ini merupakan pusat pembuatan dan penjualan genteng dari tanah liat. Saat KONTAN menyambangi sentra ini, tampak beberapa pedagang tengah duduk santai.

Wasito Idris, salah seorang produsen genteng bilang, sentra produksi dan penjualan genteng ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Wasito merupakan produsen pertama yang membuat dan menjajakan genteng.

Dia memulai usaha ini sejak tahun 1965. "Sudah terkenal, sampai disebut kampung produksi gentengnya Malang. Bahkan di desa Mendir setiap kepala keluarga membuat dan menjual genteng," katanya.

Selain dijual keluar daerah, pembuatan genteng di tempat ini juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. "Jarang ada di toko bangunan dan harga jual di sentra otomatis murah," ucap pria berusia 65 tahun ini.

Harga yang dibanderol Wasito mulai Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per pieces. Biasanya setiap hari Wasito bisa membuat 500-600 genteng. Namun di musim hujan ini, pemesanan genteng meningkat hingga 50%.

Diperkirakan omzet yang diperoleh sekitar Rp 3,6 juta hingga Rp 4,5 juta per bulan. Hampir 90% konsumennya berasal dari Malang. Untuk luar Malang, Wasito tidak membedakan harga, namun untuk pengambilan genteng ditanggung oleh pembeli.

Effendi Harja, produsen lain mengaku, sudah memproduksi genteng sejak tahun 1970-an. Ia membanderol harga jual lebih mahal, yakni berkisar Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per buah. Dalam sebulan Effendi juga bisa menjual genteng lebih banyak, yakni sekitar 1.800 hingga 2.000 unit genteng. Dari situ, omzet yang didapat Rp 5,5 juta per minggu.

Untuk produksi, Effendi dibantu dua orang karyawan. Saat musim hujan seperti sekarang, jumlah produksi bisa bertambah setengahnya karena permintaan meningkat. Konsumennya berasal dari Surabaya, Jember, Malang dan Batu.

(Bersambung)

Reporter Jane Aprilyani Editor Havid Vebri

USAHA IKM

  1. Cerita kasus pembobolan Bank BTN
  2. Ekonomi domestik lesu sejak awal tahun
  3. Sengketa biodiesel, Indonesia gugat Uni Eropa
  4. Alasan PKPU nasabah Koperasi Pandawa ditolak
  5. Write off 10 bank besar capai Rp 41,8 T di 2016
  1. China rentan ancaman ektrimis religius global
  2. Dua bank tembus aset Rp 1.000 triliun
  3. Proyek e-KTP, Gamawan salahkan masyarakat
  4. Harga e-KTP digelembungkan Rp 10.000 per lembar
  5. Tenaga Onta, Takaran Baru Kekuatan Mobil

Feedback ↑ x Feedback ↓ x

Leave a Reply